Kesenian Sunda Wayang Golek – Masyarakat Tatar Pasundan yang terkenal dengan ramah tamahnya juga mempunyai berbagai sejarah yang menghasilkan kesenian tradisional. Sesuai dengan semboyannya “Someah Hade ka Semah” yang memiliki arti sangat ramah kepada tamu. Budaya orang Sunda memang terkenal sangat ramah, murah senyum, lemah-lembut, periang, dan mereka pun sangat menghormati orang yang lebih tua. Selain budayanya, masyarakat Sunda juga terkenal kaya akan keseniannya seperti Kesenian Sunda Wayang Golek, Tari Jaipong, Degung, Rampak Gendang, Sisingaan, dll. Namun seiring berbaurnya dengan budaya asing membuat adat istiadat di Tatar Pasundan perlahan memudar.

Kesenian Sunda Wayang Golek

Ketika mendengar mengenai kesenian sunda Wayang Golek, secara langsung kita sepakat menamainya sebagai salah satu warisan kebudayaan sunda. Seni pertunjukan wayang tiga dimensi ini sangat banyak dijumpai di wilayah Jawa Barat bahkan sampai daerah perbatasan dengan Jawa Tengah.

Dalam satu dasawarsa terakhir, kesenian sunda Wayang Golek masih cukup eksis. Beberapa orang masih menggelar hajatan dengan menanggap kesenian sunda Wayang Golek yang kini sudah semakin tergerus oleh kesenian asing yang mereduksi secara signifikan kesenian peninggalan leluhur ini. Namun ketika arus modernisasi yang juga serta-merta membawa kebudayaan asing ke dalam negeri ini masuk tanpa bisa dicegah secara otomatis kebudayaan lokal yang seharusnya diberdayakan malah hampir dilupakan.

Sejarah Kesenian Sunda Wayang Golek

Kehadiran wayang golek tidak  dapat dipisahkan dari keberadaan wayang kulit. Penyebaran wayang di Jawa Barat adalah pada masa pemerintahan Raden Patah dari Kerajaan Demak, kemudian disebarluaskan oleh para Wali Songo. Termasuk Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1568 memegang kendali pemerintahan di Kesultanan Cirebon. Beliau memanfaatkan pagelaran wayang sebagai media dakwah untuk memperluas penyebaran agama Islam.

Pada sekitar tahun 1548 Sunan Kudus memperkenalkan wayang yang terbuat dari kayu, yang kemudian kemudian dipentaskan pada siang hari. Pendapat tersebut diyakini sebagai awal munculnya Kesenian Wayang Golek yang lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara Pulau Jawa pada abad ke-17 dimana kerjaan Islam tertua di Pulau Jawa yaitu Kesultanan Demak tumbuh disana. Disinilah Sunan Kudus menggunakan Wayang Golek dengan dialog bahasa Jawa sebagai media untuk menyebarkan Islam kepada  masyarakat.

Perkembangan Kesenian Wayang Golek di Tatar Pasundan

Perkembangan Wayang Golek semakin pesat, kesenian Wayang Golek dengan dialog bahasa Jawa mulai digeser ketenarannya dengan kesenian sunda Wayang Golek berbahasa Sunda ketika masa ekspansi Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Pertunjukan kesenian sunda Wayang Golek pada masa itu masih bertahan mewarisi beberapa pengaruh Hindu di beberapa tempat di Jawa Barat sebagai bekas wilayah Kerajaan Sunda Pajajaran.

Pada waktu kabupaten-kabupaten di Jawa Barat ada dibawah pemerintahan Mataram ketika masa pemerintahan Sultan Agung ( 1601-1635), penggemar kesenian sunda Wayang Golek meningkat, bukan hanya dari kalangan biasa bahkan banyak bangsawan Sunda yang datang ke Keraajaan Mataram. Dalam penyebarannya Wayang Golek tumbuh dengan membebaskan pemakaian bahasa masing-masing, hasilnya kesenian sunda Wayang Golek berkembang dan menjangkau seluruh daerah Jawa Barat.

Perubahan bentuk dari wayang kulit menjadi wayang golek terjadi secara berangsur-angsur pada sekitar abad ke 18-19. Pada sekitar tahun 1794-1829, Dalem Bupati Bandung menugaskan Ki Darman seorang pegiat Wayang Kulit asal Tegal Jawa Tengah yang berdomisili di Cibiru (Jawa Barat) untuk membuat Wayang Golek. Kemudian pada abad ke-20 perubahan bentuk pada Wayang Golek semakin baik dan sempurna. Hasilnya dapat dilihat pada perkembangan Wayng Golek yang sering kita jumpai pada masa sekarang ini.

Pertunjukan Kesenian Sunda Wayang Golek

kesenian sunda wayang golek, artikel kesenian sunda wayang golek, kesenian sunda wayang golek bahasa sunda, download kesenian sunda wayang golek, pengertian carita wayang dalam bahasa sunda, tokoh wayang golek dan karakternya, unsur unsur carita wayang, cerita wayang golek bahasa sunda asep sunandar sunarya, sajarah wayang golek, rupa rupa wayang, asal usul wayang bahasa sunda, papasingan wayang,
Sumber : Google

Pada mulanya pertunjukan Wayang Golek diselenggarakan oleh kaum bangsawan Sunda dilingkungan Istana atau Kabupaten, baik untuk kepentingan pribadi atupun keperluan umum. Pagelaran seni Wayang Golek memiliki tujuan beracam-macam, dari mulai yang bersifat ritual ataupun dalam rangka hiburan semata. Pertunjukan yang sifatnya ritual sudah jarang dipentaskan, misalnya saja pada upacara sedekah laut atau sedekah bumi yang biasanya diadakan setahun sekali.

Pertunjukan wayang biasanya diadakan pada saat adanya pesta pernikahan, khitanan, agustusan atau acara lainnya. Isi ceritanya ada yang menganut prinsip galur (diambil seutuhnya dari cerita Ramayana dan Mahabrata) dan ada juga yang menggunakan prinsip sempalan (mengambil bagian tertentu yang biasanya menarik penonton seperti peperangan dan dialog humor). Pertunjukan yang mengambil prinsip galur waktunya semalam suntuk bahkan hingga waktu subuh sedangkan yang menggunakan prinsip sempalan biasanya hanya satu sampai dua jam saja. Apalagi apabila pertunjukannya melalui media televisi yang jam tayangnya sangat terbatas.

Tokoh Wayang Golek

Jumlah tokoh Wayang Golek adalah kurang lebih 623 tokoh. Dalam suatu pertunjukan biasanya menghadirkan antara 20-30 boneka wayang dan yang sering muncul kebanyakan figur-figur yang akrab di masyarakat yaitu :

  • Cepot Astrajingga
kesenian sunda wayang golek, artikel kesenian sunda wayang golek, kesenian sunda wayang golek bahasa sunda, download kesenian sunda wayang golek, pengertian carita wayang dalam bahasa sunda, tokoh wayang golek dan karakternya, unsur unsur carita wayang, cerita wayang golek bahasa sunda asep sunandar sunarya, sajarah wayang golek, rupa rupa wayang, asal usul wayang bahasa sunda, papasingan wayang,
Sumber : Google

Astrajingga alias Cepot adalah anak pertama dari tiga bersaudara yaitu Dawala dan Gareng dari pasangan Semar Badranaya dan Sutiragen. Dia memiliki wajah yang merah dan gigi bawahnya yang besar dan menonjol ke atas. Pencipta tokoh “si Cepot” adalah Ki H. Asep Sunandar Sunarya seorang dalang terkenal di Jawa Barat. Nama Astrajingga berasal dari dua kata, yakni sastra yang berarti tulisan dan jingga yang artinya buruk. Jadi Astrajingga merupakan cerminan karakter yang berkelakuan buruk seperti nilai rapor yang memiliki nilai merah. Wataknya humoris, suka ngabodor tak peduli kepada siapapun baik ksatria, raja maupun para dewa. Meskipun tingkahnya sangat konyol dan selalu membuat jengkel, kehadirannya dalam pertunjukan kesenian sunda Wayang Golek malah selalu dinantikan. Karena kelucuan Si Cepot berdasarkan pada norma-norma, nilai-nilai dan sikap hidup sehingga kelucuannya mampu diterima oleh semua kalangan. Karena wataknya yang suka bercanda, banyak orang yang menyuakai tokoh ini dan membuat si Cepot terkenal.

  • Semar Badranaya
kesenian sunda wayang golek, artikel kesenian sunda wayang golek, kesenian sunda wayang golek bahasa sunda, download kesenian sunda wayang golek, pengertian carita wayang dalam bahasa sunda, tokoh wayang golek dan karakternya, unsur unsur carita wayang, cerita wayang golek bahasa sunda asep sunandar sunarya, sajarah wayang golek, rupa rupa wayang, asal usul wayang bahasa sunda, papasingan wayang,
Sumber : Google

Semar Badrayana adalah penjelmaan dari seorang Dewa yakni Batara Ismaya yang diturunkan ke bumi dan menyamar sebagai manusia biasa. Semar mempunyai seorang istri yang bernama Dewi Sutiragen yang merupakan putri dari kerajaan Sekarnumbe dan memiliki 3 orang putra yakni Cepot, Dawala dan Gareng. Semar mempunyai bentuk yang unik, bertubuh hitam dan berwajah putih. Semar merupakan salah satu penasehat Pandawa bersama dengan Batara Kresna, tetapi dalam cerita Ramayana dia juga selaku penasehat Batara Rama. Semar merupakan sosok panutan, sederhana, bijaksana dan tak jarang menjadi tokoh yang menjadikan suasana mencair saat terjadi ketegangan.

  • Arjuna
kesenian sunda wayang golek, artikel kesenian sunda wayang golek, kesenian sunda wayang golek bahasa sunda, download kesenian sunda wayang golek, pengertian carita wayang dalam bahasa sunda, tokoh wayang golek dan karakternya, unsur unsur carita wayang, cerita wayang golek bahasa sunda asep sunandar sunarya, sajarah wayang golek, rupa rupa wayang, asal usul wayang bahasa sunda, papasingan wayang,
Sumber : Google

Arjuna adalah putra putra ketiga dari Pandu dan Dewi Kunti. Disebut juga panengah Pandawa Tinggal di Madakura bagian dari Kerajaan Amarta. Dia gemar berkelana, bertapa, dan berguru mencari ilmu. Arjuna sangat taat kepada gurunya yaitu Resi Drona dari Kerajaan Astina. Arjuna memiliki senjata pusaka keris Pancaroba, Ali-ali Ampal, dan Panah Pasopati. Arjuna memiliki paras yang tampan dan disukai banyak wanita sehingga Arjuna mempunyai julukan Permadi karena terkenal punya banyak istri dan memiliki putra salah satunya adalah Abimanyu. Dalam perang Baratayuda, Arjuna adalah salah satu penentu kemenangan Pandawa. Dengan kisahnya yang sangat terkenal sosok Arjuna dalam kesenian sunda Wayang Golek pun sangat mudah dikenalali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here